SIDOARJO Jawa Timur, Lembaga Swadaya Masyarakat ( LSM ) Front Pembela Suara Rakyat ( FPSR ) DPD Sidoarjo, menyoroti pembangunan dan kondisi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu ( TPST ) Desa Sambi Bulu Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Tumpukan sampah yang menggunung di sekitar lokasi, termasuk di sepanjang akses jalan menuju TPST, dinilai mencerminkan lemahnya pengelolaan lingkungan desa.
Ketua LSM FPSR ( Front Pembela Suara Rakyat ) Kabupaten Sidoarjo, Agus Harianto, S.H., menegaskan bahwa keberadaan TPST seharusnya menjadi solusi pengolahan sampah desa, bukan justru menimbulkan persoalan baru.
“Kondisi ini sangat kami sayangkan. TPST itu konsepnya pengolahan, bukan sekadar tempat pembuangan. Jika sampah dibiarkan menumpuk, maka tujuan pembangunan patut dipertanyakan,” ujar Agus Harianto, S.H., saat dikonfirmasi, Jumat (26/12/2025).
Ketua LSM FPSR kabupaten Sidoarjo ( Agus Harianto, SH) juga menyoroti papan proyek pembangunan Hanggar TPST Desa Sambibulu Kec, Taman Kab, Sidoarjo, dengan nilai anggaran untuk tahap pertama sebesar Rp 160 juta ( seratus enam puluh juta rupiah ) dan untuk tahap kedua sebesar Rp 200 juta ( dua ratus juta rupiah ) jadi total anggaran yg di keluarkan sebesar Rp 360 juta ( tiga ratus enam puluh juta rupiah ) dana tersebut bersumber dari APBDes (Dana Desa) Tahun Anggaran 2025. Menurutnya, penggunaan Dana Desa harus dilakukan secara transparan, akuntabel, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Dana Desa adalah uang negara untuk rakyat. Jangan sampai hanya sebatas papan proyek, sementara dampak dan realisasinya di lapangan tidak sesuai harapan,” tegasnya.
Lebih lanjut, LSM FPSR mendesak Pemerintah Desa ( PemDes ) Sambi Bulu Kec, Taman Kab, Sidoarjo, untuk segera melakukan langkah konkret, termasuk penataan lingkungan sekitar TPST dan keterbukaan informasi progres pembangunan kepada masyarakat.
Lembaga Swadaya Masyarakat ( LSM ) FPSR Kabupaten Sidoarjo, juga menyatakan akan terus melakukan pemantauan sebagai bagian dari fungsi kontrol sosial.
Sementara itu, Supriadi, selaku pengurus sekaligus pekerja TPST Desa Sambibulu, memberikan klarifikasi terkait kondisi di lapangan. Ia menjelaskan bahwa pembangunan TPST masih dalam tahap pengerjaan dan telah berjalan sekitar empat bulan.
“Pekerjaan ini sudah berjalan kurang lebih empat bulan. Saat ini kami masih fokus pada pemasangan cerobong beserta relnya. Tadi ada sekitar enam sampai tujuh orang yang mengerjakan pemasangan cerobong,” jelas Supriadi.
Terkait sampah yang menumpuk di sepanjang jalan menuju TPST, Supriadi menyebut pihaknya telah melakukan penanganan sementara.
“Kalau sampah di sepanjang jalan menuju TPST, kalau sudah banyak kami bakar,” pungkasnya.
Ia menambahkan bahwa penanganan tersebut bersifat sementara sambil menunggu seluruh fasilitas TPST berfungsi secara optimal.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Pemerintah Desa Sambibulu belum memberikan keterangan resmi terkait sorotan LSM maupun progres detail pembangunan TPST tersebut. ( Tim )





