Bullying, Masalah Lama yang Tak Pernah Selesai di Dunia Pendidikan

Bullying tetap menjadi masalah lama yang tak pernah selesai di dunia pendidikan karena fenomenanya tersebar hampir di seluruh negara,berdampak pada jutaan anak dan remaja, serta beragam bentuknya terus berkembang dari fisik sampai digital.

Di tingkat global, data UNESCO menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 3 remaja pernah mengalami bullying di sekolah, baik berupa intimidasi fisik, verbal, maupun sosial yang berulang dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan antar siswa. Ini berarti bullying bukan sekadar masalah sporadis, tetapi sebuah fenomena yang sistemik di lingkungan sekolah di berbagai belahan dunia.

Menurut survei internasional lain yang mencakup puluhan negara, sekitar 23–30 % siswa melaporkan pernah menjadi korban bullying beberapa kali dalam sebulan, menegaskan bahwa perilaku ini masih sangat umum di sekolah di seluruh dunia.Dalam konteks Indonesia, temuan riset dari Kemendikbudristek memperlihatkan bahwa lebih dari 36 % siswa berpotensi mengalami bullying berupa verbal, fisik hingga cyberbullying, namun ironisnya hanya sebagian kecil yang berani melapor.

Laporan juga menunjukkan peningkatan kasus dari tahun ke tahun, serta kasus kekerasan di sekolah yang membuat trauma atau bahkan mengakibatkan korban meninggal.Dampaknya sangat serius: selain luka fisik, bullying dikaitkan dengan masalah kesehatan mental, penurunan prestasi akademik, absensi sekolah yang meningkat, hingga risiko bunuh diri pada sebagian korban.

Bullying tidak hanya terjadi di negara berkembang. Bahkan di negara maju, kasus ini mencuat dalam statistik dan laporan media. Misalnya, di Amerika Serikat, survei nasional melaporkan bahwa hampir 1 dari 5 siswa melaporkan menjadi korban bullying, dengan variasi berdasarkan jenis bullying (fisik, sosial, atau rumor). Di Eropa, studi WHO/Europe menemukan bahwa sekitar 1 dari 6 anak sekolah mengalami cyberbullying, yang menunjukkan bagaimana teknologi menciptakan medan baru bagi perilaku bullying di negara-negara dengan akses digital yang tinggi.

Laporan media juga mengungkap tren peningkatan insiden bullying di sekolah-sekolah di Skotlandia, yang menjadi perhatian publik karena lonjakan jumlah insiden yang dilaporkan.Fenomena ini seringkali dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tekanan sosial, stereotip gender, status ekonomi, hingga perbedaan budaya atau latar belakang imigran, yang juga berdampak pada siapa yang lebih rentan menjadi target bullying di negara kaya.

Contoh kasus yang sering muncul termasuk intimidasi fisik di sekolah dasar, penyebaran rumor di sekolah menengah, serta cyberbullying melalui media sosial yang sulit dipantau oleh guru dan orang tua. Di banyak sekolah di negara maju, meskipun ada kebijakan anti-bullying, tantangan muncul dari kurangnya pelaporan yang akurat dan pendekatan yang tidak konsisten antar sekolah.

Argumen penting seputar bullying adalah bahwa ia bukan sekadar masalah perilaku individual, tetapi berkaitan erat dengan iklim sekolah, budaya siswa, peran guru, dan dukungan keluarga. Sekolah yang tidak memiliki sistem pencegahan yang kuat seringkali melihat pola bullying berulang karena kurangnya pendidikan karakter dan pengembangan empati sejak dini.Untuk itu, diperlukan pendekatan inovatif yang bukan hanya menghukum pelaku, tetapi juga mendorong perubahan budaya sekolah.

Salah satu solusi inovatif adalah menerapkan pendekatan berbasis teknologi dan data, seperti sistem deteksi dini berbantuan AI untuk mengidentifikasi situasi berisiko tinggi baik di dunia nyata maupun di dunia maya sebelum situasi eskalatif terjadi. Pendekatan ini bisa membantu guru dan konselor mendapatkan indikator awal dari perilaku agresif atau isolasi siswa.
Selain teknologi, pendekatan pendidikan sosial-emosional (SEL) dapat ditanamkan ke dalam kurikulum sejak usia dini untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan empati, komunikasi konflik yang sehat, dan regulasi emosi. Melibatkan siswa secara aktif dalam program peer mentoring juga bisa menciptakan budaya sekolah yang lebih suportif, di mana siswa saling mendukung daripada saling mengintimidasi.

Peran orang tua dan komunitas juga penting: menyelenggarakan workshop keterlibatan orang tua tentang tanda-tanda bullying dan cara meresponsnya dengan tepat dapat memperkuat dukungan di luar sekolah.
Terakhir, sekolah perlu mengembangkan sistem pelaporan yang mudah, aman, dan rahasia, di mana korban atau saksi bullying dapat melaporkan kejadian tanpa takut pembalasan, dilengkapi dengan tim respons cepat yang dilatih secara profesional.

Dengan kombinasi data yang akurat, pendidikan karakter, teknologi, dan kerja sama komunitas pendidikan, bullying bisa dipandang bukan sebagai fenomena yang tak terhindarkan, tetapi sebuah tantangan yang bisa dikurangi secara signifikan melalui upaya bersama.

Oleh: Najwa Aliah Putri Sisyanto
Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Program Studi Manajemen Pendidikan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ( Tim )

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *