Deep learning dalam konteks pendidikan bukan hanya sekadar metode pembelajaran berbasis teknologi, tetapi lebih dari itu, merupakan filosofi pendidikan yang menekankan pemahaman mendalam, refleksi kritis, serta perubahan perilaku. Meskipun konsep ini telah lama diusung, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pendidikan mendalam belum mampu memberikan dampak signifikan terhadap pembentukan karakter siswa. Berbagai laporan menunjukkan bahwa penerapan pendidikan karakter di sekolah masih bersifat formal dan berbasis hafalan nilai-nilai moral.
Menurut laporan Kemdikbud (2023), lebih dari 62% sekolah di Indonesia masih mengimplementasikan pendidikan karakter hanya melalui kegiatan seremonial seperti upacara, slogan, dan penilaian sikap administratif, bukan melalui pembelajaran yang bermakna. Kondisi ini berdampak pada meningkatnya kasus perundungan di sekolah: data SIM-PKBN (2024) menunjukkan bahwa 1 dari 5 siswa Indonesia pernah mengalami atau melakukan bullying.
Tingginya angka ketidakjujuran akademik, seperti menyontek saat ujian dan plagiarisme, juga mencerminkan bahwa proses pembelajaran belum benar-benar menyentuh aspek karakter secara autentik.
Untuk menjadikan deep learning tidak hanya sebagai konsep, tetapi sebagai praktik yang benar-benar memengaruhi karakter siswa, pendidikan harus melakukan transformasi menyeluruh yang mencakup pendekatan pembelajaran, budaya sekolah, kompetensi guru, dan keterlibatan keluarga serta komunitas.
Artikel ini akan membahas konsep Deep Lear ning dimulai dengan mengubah pola pembelajaran menjadi lebih autentik, reflektif, dan berbasis pengalaman nyata, sehingga siswa tidak hanya memahami nilai moral, tetapi juga mempraktikkannya dalam konteks kehidupan sehari-hari. Selain itu, budaya sekolah perlu dibangun di atas keteladanan dan interaksi positif agar nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan empati dapat tumbuh secara alami dalam lingkungan sosial siswa.
Tantangan Deep Learning yang belum berdampak pada karakter
Pembentukan karakter juga terlihat dalam fenomena perilaku siswa di ruang digital. Survei UNESCO (2023) menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam kasus penyebaran hoaks oleh remaja, sementara studi Microsoft Digital Civility Index (2022) menempatkan remaja Indonesia sebagai salah satu kelompok paling rentan terhadap perilaku negatif di internet, termasuk ujaran kebencian dan pelecehan daring.
Data ini memperkuat bahwa integrasi deep learning—yang seharusnya membantu siswa berpikir reflektif dan etis—masih belum terwujud dalam praktik pendidikan. Banyak guru masih fokus pada pencapaian materi kurikulum, sementara kemampuan menalar moral, empati, regulasi diri, dan kebijaksanaan praktis tidak mendapat tempat yang cukup dalam kegiatan belajar.
Jika dibandingkan dengan negara-negara maju, Indonesia masih menghadapi kesenjangan besar dalam mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam proses pembelajaran. Finlandia, misalnya, menerapkan pendekatan learning-based phenomenon yang menghubungkan berbagai disiplin ilmu untuk memecahkan masalah nyata. Tidak adanya ujian nasional di tingkat dasar membuat siswa lebih fokus pada proses pemahaman, kolaborasi, serta refleksi, sehingga karakter seperti tanggung jawab, ketekunan, dan empati tumbuh melalui pengalaman langsung. Singapura melalui program Thinking Schools, Learning Nation menunjukkan bagaimana pendidikan karakter dapat diintegrasikan langsung dalam aktivitas pembelajaran berbasis proyek masyarakat; siswa tidak hanya belajar secara akademik, tetapi juga dilatih untuk menghadapi persoalan sosial secara nyata. Kanada menerapkan 6 Global Competencies Framework yang mencakup kreativitas, berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, dan kewarganegaraan.
Setiap tugas dan proyek harus memenuhi sebagian kompetensi tersebut, sehingga karakter tidak diajarkan secara terpisah, melainkan dibangun secara organik selama proses pembelajaran. Keberhasilan negara-negara tersebut menunjukkan bahwa pembentukan karakter tidak bisa dicapai hanya melalui ceramah moral, tetapi harus ditanamkan melalui pengalaman belajar autentik dan sistem pendidikan yang tidak hanya mengejar nilai.
Indonesia belum mencapai kondisi tersebut karena beberapa hambatan struktural dan kultural. Pertama, beban kurikulum yang masih padat membuat guru tidak memiliki ruang waktu untuk mengembangkan aktivitas pembelajaran mendalam. Kedua, sebagian besar penilaian masih berorientasi pada hasil kognitif sehingga siswa terdorong mengejar nilai daripada makna belajar. Ketiga, budaya sekolah lebih menekankan kepatuhan formal, bukan pembentukan nilai otonom yang tumbuh dari proses refleksi.
Selain itu, digitalisasi yang cepat tidak diimbangi dengan pendidikan literasi digital kritis, sehingga siswa tidak memiliki kompas moral yang kuat dalam menjalani kehidupan daring.
Strategi dan Solusi untuk Menghidupkan karakter dalam Deep Learning
Untuk mengatasi problem ini, diperlukan sejumlah solusi inovatif yang dapat memperkuat penerapan deep learning bagi pembentukan karakter. Pertama, sekolah perlu mengubah orientasi pembelajaran dari teacher-centered menuju authentic learning, yakni pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan akademik dengan kehidupan nyata.
Melalui proyek berbasis permasalahan sosial di lingkungan sekitar, siswa dapat mengembangkan empati, tanggung jawab, dan kesadaran moral secara konkret. Kedua, guru perlu mendapatkan pelatihan intensif tentang desain pembelajaran reflektif, seperti teknik learning journal, diskusi moral berbasis dilema, inquiry kritis, dan penggunaan portofolio karakter. Ketiga, sekolah harus membangun budaya yang menekankan keteladanan dan relasi hangat antara guru dan siswa, karena berbagai studi menunjukkan bahwa pembentukan karakter lebih kuat melalui interaksi sosial yang autentik daripada ceramah nilai.
Selain itu, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran karakter melalui platform refleksi digital, simulasi etis, dan pembelajaran berbasis game yang menumbuhkan pengambilan keputusan moral. Kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan komunitas juga perlu diperkuat agar nilai-nilai moral konsisten diterapkan di berbagai lingkungan siswa. Pada akhirnya, deep learning hanya akan berdampak pada pembentukan karakter jika pendidikan mampu menghadirkan proses belajar yang bermakna, reflektif, dan berpusat pada kemanusiaan.
Dengan mengintegrasikan nilai moral ke dalam seluruh aspek pembelajaran, pendidikan Indonesia dapat bergerak dari sekadar mengajarkan pengetahuan menuju membentuk manusia yang bijaksana dan berintegritas.
Simpulan dan Rekomendasi
Deep learning dalam konteks pendidikan sebenarnya memiliki potensi besar untuk membentuk karakter siswa melalui pemahaman yang mendalam, refleksi kritis, dan pengalaman belajar yang bermakna. Namun, implementasinya di sekolah masih belum optimal karena pendidikan karakter cenderung dilakukan secara seremonial, administratif, dan berorientasi hafalan.
Oleh karena itu, upaya membangun pendidikan karakter melalui deep learning membutuhkan transformasi sistemik pada kurikulum, praktik pembelajaran, dan ekosistem pendidikan secara keseluruhan.
Agar deep learning benar-benar menjadi pembelajaran mendalam secara keseluruhan diperlukan langkah-langkah berikut :
Integrasikan pembelajaran autentik dalam Kurikulum.Bagun budaya sekolah positif.
Perkuat kompetensi guru.
Libatkan orang tua dan komunitas.
Gunakan teknologi sebagai sarana pembentukan karakter.
Perbaiki system penilaian karakter.
Dengan menerapkan rekomendasi ini secara konsisten dan berkelanjutan, deep learning dapat berkembang dari sekadar gagasan menjadi praktik pendidikan yang mampu membentuk karakter siswa secara nyata, mendalam, dan berkelanjutan.
( red)
Luthfiyah Muslimah
Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
UIN Syarif Hidayatullah





