
Aceh Singkil, jatim.expost.co.id (1/9/2026) — Usai mengikuti Rapat Koordinasi Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Alam di Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, Bupati Aceh Singkil bersama jajaran Tim Monev langsung turun ke lapangan untuk melihat kondisi sejumlah infrastruktur yang membutuhkan penanganan serius.
Kegiatan yang berlangsung di Op-Room Kantor Bupati Aceh Singkil, Selasa (1/9/2026), dilanjutkan dengan peninjauan ke empat lokasi prioritas. Rombongan dipimpin bersama Kepala Koordinator Wilayah Aceh II Brigjen TNI (Mar) Dr. Guslin, SH., MH., Wakil Kepala Koordinator Wilayah Aceh II Kombes Pol. Reinhard Reimond Huwae, S.I.K., Tim PRR Pascabencana Aceh Singkil dan Subulussalam, serta unsur Forkopimda, Ketua DPRK, Kapolres Aceh Singkil, Kasdim 0109 Aceh Singkil, Pj. Sekda dan jajaran SKPK terkait.
Empat lokasi yang menjadi perhatian adalah abrasi pantai Desa Pulo Sarok Kecamatan Singkil, jembatan kayu Suka Kaya dan jalur penghubung di sekitarnya, proyek tanggul penahan banjir di Desa Tanah Merah Kecamatan Gunung Meriah, serta Embung/Waduk Sianjo-Anjo di Desa Sianjo-Anjo Merah, Kecamatan Gunung Meriah.
Abrasi di Pulo Sarok dinilai semakin mengkhawatirkan karena terus menggerus garis pantai dan berpotensi mengancam permukiman masyarakat maupun fasilitas umum. Sementara itu, jembatan kayu Suka Kaya menunjukkan kondisi yang memerlukan perhatian dan penanganan segera.

Di Desa Tanah Merah, tim melihat langsung kondisi proyek tanggul penahan banjir yang belum tuntas. Dari rencana pembangunan lebih dari 26 kilometer, hingga saat ini baru sekitar 2,1 kilometer yang dikerjakan sehingga diperlukan evaluasi dan langkah percepatan.
Sedangkan peninjauan ke Embung/Waduk Sianjo-Anjo dilakukan untuk melihat kondisi serta potensi pemanfaatannya dalam mendukung kebutuhan masyarakat dan penguatan infrastruktur pengendalian air di wilayah tersebut.
Bupati: Jangan Berhenti pada Data, Harus Ada Tindak Lanjut
Bupati Aceh Singkil menegaskan, kehadiran Tim Monev di lapangan merupakan momentum penting untuk memastikan berbagai persoalan pascabencana dapat ditangani berdasarkan kondisi nyata dan kebutuhan masyarakat.
“Kita tidak ingin persoalan hanya berhenti pada laporan dan rapat. Hari ini kita melihat langsung kondisi di lapangan, mencatat apa yang menjadi masalah, kemudian mencari solusi dan langkah tindak lanjut yang konkret.”
Menurut Bupati, empat lokasi tersebut memiliki karakter persoalan yang berbeda, namun semuanya menyangkut kepentingan dan keselamatan masyarakat.
“Abrasi Pulo Sarok harus kita lihat sebagai ancaman yang terus bergerak. Jembatan Suka Kaya menyangkut akses masyarakat. Tanggul Tanah Merah berkaitan dengan perlindungan dari banjir, dan Embung Sianjo-Anjo memiliki potensi strategis untuk mendukung kebutuhan masyarakat. Semuanya membutuhkan perhatian dan penanganan yang terukur.”
Bupati juga menyampaikan apresiasi kepada Koordinator Wilayah Aceh II beserta seluruh Tim Monev yang telah turun langsung melihat kondisi di Aceh Singkil.
“Kami berharap hasil tinjauan hari ini tidak berhenti sebagai dokumentasi. Kami sangat berharap Koordinator Wilayah Aceh II dapat membawa hasil evaluasi ini menjadi bahan tindak lanjut di tingkat yang lebih tinggi, sehingga penanganan yang memang menjadi kewenangan pusat dapat dipercepat.”
Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil siap mendukung seluruh proses dengan data, dokumen teknis dan informasi lapangan yang dibutuhkan.
“Pemkab Aceh Singkil siap membuka ruang koordinasi seluas-luasnya. Prinsip kita sederhana: mana yang bisa kita kerjakan, kita kerjakan; mana yang membutuhkan dukungan pemerintah pusat, kita kawal bersama sampai ada solusi.”
Brigjen TNI (Mar) Dr. Guslin: Temuan Lapangan Menjadi Dasar Percepatan
Sementara itu, Kepala Koordinator Wilayah Aceh II Brigjen TNI (Mar) Dr. Guslin, SH., MH. memberikan respons positif terhadap hasil peninjauan empat lokasi tersebut.
Ia menilai, turun langsung ke lapangan sangat penting untuk memperoleh gambaran faktual mengenai kondisi infrastruktur dan kebutuhan masyarakat.
“Apa yang kita lihat hari ini memberikan gambaran yang jelas tentang persoalan di lapangan. Ini menjadi bahan penting bagi kami untuk melihat prioritas, kebutuhan penanganan dan langkah yang harus segera dilakukan.”
Terkait empat lokasi yang ditinjau, Guslin menegaskan bahwa hasil Monev akan menjadi bagian dari bahan evaluasi dan koordinasi untuk mendorong percepatan penanganan.
“Kita akan melihat mana yang sifatnya mendesak, mana yang membutuhkan penanganan lanjutan, dan mana yang harus segera dikoordinasikan dengan kementerian atau lembaga terkait. Yang terpenting, hasil Monev ini harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.”
Ia juga mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil yang secara terbuka menyampaikan kondisi dan kebutuhan daerah.
“Kami melihat ada semangat yang kuat dari pemerintah daerah untuk menyelesaikan persoalan. Ini menjadi modal penting. Pemerintah daerah tidak sendiri, dan koordinasi seperti ini harus terus kita bangun agar penanganan pascabencana dapat berjalan lebih cepat dan tepat sasaran.”
Menutup kegiatan, Guslin menegaskan bahwa Monev bukan sekadar memastikan progres pembangunan, tetapi juga memastikan setiap intervensi pemerintah benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat dan mempercepat pemulihan pascabencana.
“Kita ingin masyarakat segera merasakan hasilnya. Karena ukuran keberhasilan rehabilitasi dan rekonstruksi bukan hanya selesainya pekerjaan, tetapi pulihnya kehidupan masyarakat dan semakin kuatnya infrastruktur menghadapi risiko bencana ke depan,” pungkasnya.
( D, S)