SIDOARJO – Gelombang ketidakpuasan warga terhadap pola kepemimpinan Desa Pabean, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo, kian menguat. Masyarakat mulai bersuara lantang, menuntut perubahan total dalam tata kelola pemerintahan desa yang dinilai selama ini stagnan, tertutup, dan dikuasai figur yang itu-itu saja.
Nama Bagus Ardiyansah mencuat sebagai simbol harapan baru. Dorongan agar ia maju sebagai calon Kepala Desa Pabean datang langsung dari akar rumput, yang merasa pembangunan desa belum sepenuhnya menyentuh kebutuhan masyarakat luas dan minim transparansi, khususnya dalam pengelolaan dana desa.
Jokowi, ketua RT Desa Pabean, menegaskan sikapnya secara terbuka. Saat dihubungi melalui pesan WhatsApp, Minggu (03/01/2026), pria yang akrab disapa Pak Wi itu menyatakan siap berada di barisan terdepan dalam mengawal perubahan di desanya.
“Kami sudah terlalu lama diam. Desa ini butuh perubahan nyata. Saya siap menjadi garda terdepan dan mengawal Mas Bagus Ardiyansah sampai benar-benar menjadi kepala desa,” tegas Jokowi melalui pesan WhatsApp.
Menurutnya, masyarakat sudah jenuh dengan pola kepemimpinan lama yang dinilai minim keterbukaan dan tidak memberi ruang partisipasi warga. Ia menilai Pilkades mendatang harus menjadi momentum koreksi dan pembenahan total.
Jokowi menambahkan, dukungan terhadap Bagus Ardiyansah lahir dari keinginan warga agar pemerintahan desa ke depan dijalankan secara transparan, akuntabel, dan dapat diawasi publik.
Sementara itu, Bagus Ardiyansah menegaskan bahwa dukungan masyarakat merupakan amanah besar sekaligus bentuk perlawanan terhadap pola lama yang dinilai tidak sehat.
“Dana desa adalah hak masyarakat, bukan milik segelintir orang. Jika dipercaya, saya akan membuka pengelolaan pemerintahan desa secara transparan dan melibatkan warga dalam setiap keputusan,” tegas Bagus.
Ia menyatakan kesiapannya membenahi tata kelola desa, membuka akses informasi publik, serta menghentikan praktik-praktik lama yang dinilai menyimpang dari semangat pemerintahan bersih.
“Kepala desa harus menjadi pelayan masyarakat. Jika masih ada yang ingin mempertahankan pola lama, itu berarti mengabaikan kehendak rakyat,” tandasnya.
Safiudin pengamat Pilkades mengatakan Menguatnya suara masyarakat ini menjadi sinyal keras bahwa Pilkades Pabean bukan sekadar pergantian figur, melainkan pertarungan antara mempertahankan status quo atau menghadirkan perubahan nyata bagi Desa Pabean.
