
Ulat Masih Hidup Ditemukan dalam Menu MBG di Posyandu Mawar 5 Ngasem. SPPG Sebut Bukan Kesalahan Mereka dan Menduga Sabotase. Lalu, Siapa yang Bertanggung Jawab?
Kab. Kediri, jatim.expost.co.id (5 Agustus 2026) — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kediri kembali menjadi sorotan. Beredarnya unggahan video, Seekor ulat yang disebut masih hidup ditemukan di dalam menu MBG yang diterima salah satu penerima manfaat di Posyandu Mawar 5 Ngasem wilayah Kecamatan Purwoasri, Kabupaten Kediri, Jumat (31/7/2026).
Temuan tersebut terjadi ketika menu MBG dipindahkan dari tempat semula. Saat makanan dipindahkan, penerima manfaat mendapati adanya ulat yang masih hidup di dalam salah satu bagian menu.
Temuan itu kemudian dilaporkan kepada tim media. Untuk memastikan informasi tersebut, tim melakukan penelusuran langsung ke dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berada di wilayah Klampitan 2, Kecamatan Purwoasri, Kabupaten Kediri.
Di lokasi, tim menemui Kepala SPPG, Rio. Ia membenarkan adanya laporan mengenai temuan ulat dalam makanan MBG yang didistribusikan kepada penerima manfaat.
Namun, Rio membantah bahwa temuan tersebut otomatis menunjukkan adanya kesalahan dalam proses penyediaan makanan di dapur SPPG.
Menurut dia, makanan yang telah keluar dari dapur dan kemudian dipindahkan ke tempat lain memungkinkan adanya faktor lain yang perlu ditelusuri.
“Kalau ulat tersebut bukan kesalahan dari kami, mungkin itu sabotase. Soalnya sudah dipindah di tempat lain,” ujar Rio saat ditemui tim media.
Rio menduga ulat tersebut kemungkinan berasal dari bahan sayuran, khususnya selada, yang digunakan dalam menu MBG pada hari tersebut. Meski demikian, dugaan tersebut belum disertai hasil pemeriksaan atau bukti yang dapat memastikan asal ulat tersebut.
Ditemukan Setelah Menu Dipindahkan
Kronologi penemuan menjadi salah satu bagian penting yang perlu ditelusuri. Berdasarkan informasi yang diterima tim media, ulat tersebut ditemukan setelah makanan dipindahkan dari tempat semula.
Ulat disebut masih dalam kondisi hidup ketika ditemukan.
Kondisi tersebut memunculkan sejumlah pertanyaan mengenai proses penanganan bahan baku, pencucian sayuran, pengolahan makanan, hingga pengemasan dan distribusi menu MBG sebelum diterima penerima manfaat.
Apalagi, apabila dugaan sementara mengarah pada sayuran selada, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui apakah bahan tersebut telah melalui proses sortasi dan pencucian secara memadai sebelum masuk ke tahap pengolahan.
Tanpa pemeriksaan lebih lanjut, belum dapat dipastikan kapan dan dari mana ulat tersebut masuk ke dalam makanan.
Layani 1.400 Porsi
SPPG tersebut diketahui melayani sekitar 1.400 porsi MBG. Operasional dapur disebut baru berjalan sekitar tiga bulan.
Besarnya jumlah porsi yang diproduksi setiap hari membuat pengawasan terhadap bahan baku, kebersihan, proses pengolahan, pengemasan, hingga distribusi menjadi bagian penting dalam memastikan keamanan makanan yang diterima para penerima manfaat.
Dalam kasus ini, temuan ulat hidup semestinya tidak berhenti pada saling tuding. Perlu ada penelusuran menyeluruh untuk mengetahui titik masuk kontaminasi sekaligus memastikan kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Mitra Disebut Berada di Jawa Barat
Ketika ditanya mengenai mitra SPPG, Rio menyebut nama H. Munjain. Namun, menurut keterangan Rio, mitra tersebut saat ini berada di Jawa Barat.
SPPG tersebut juga disebut berkaitan dengan Yayasan Cahaya Hati Insani Karawang.
Keterangan mengenai keberadaan mitra tersebut masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut kepada yang bersangkutan. Hingga berita ini disusun, belum diperoleh penjelasan langsung dari H. Munjain maupun pihak Yayasan Cahaya Hati Insani Karawang mengenai temuan ulat tersebut.
Perlu Pemeriksaan Independen
Temuan ulat hidup dalam makanan yang diperuntukkan bagi penerima manfaat MBG menjadi persoalan yang tidak dapat dianggap sepele. Selain menyangkut kualitas makanan, kejadian tersebut berkaitan langsung dengan standar keamanan pangan.
Pernyataan mengenai kemungkinan sabotase juga perlu dibuktikan dengan pemeriksaan yang objektif. Sebab, tanpa bukti atau hasil investigasi resmi, penyebab masuknya ulat ke dalam makanan belum dapat dipastikan.
Pihak terkait, termasuk pengelola SPPG dan instansi pengawas, perlu menelusuri seluruh rantai proses, mulai dari asal bahan baku, penerimaan sayuran, proses pencucian dan pengolahan, pengemasan, hingga distribusi kepada penerima manfaat.
Jika ditemukan adanya kelemahan dalam prosedur keamanan pangan, evaluasi dan perbaikan harus segera dilakukan.
Sebaliknya, apabila dugaan sabotase benar-benar ditemukan, hal tersebut juga perlu dibuktikan melalui pemeriksaan dan penelusuran yang dapat dipertanggungjawabkan.
Temuan ulat hidup dalam menu MBG di Posyandu Mawar 5 Ngasem kini menyisakan satu pertanyaan utama: pada tahap mana ulat tersebut masuk ke dalam makanan?
Jawaban atas pertanyaan itu menjadi penting, bukan hanya untuk menjelaskan kejadian di Kediri, tetapi juga untuk memastikan keamanan ribuan porsi makanan yang setiap hari dikonsumsi penerima manfaat program MBG.




