Buka giling pabrik gula candi 2026,targetkanProduksi hasil panen

 

SIDOARJO ,  – Dalam rangka acara kegiatan tahunan Pabrik Gula Candi Sidoarjo menggelar acara tasyakuran Buka Giling Tebu 2026 yang berlangsung meriah dengan berbagai hiburan tradisional, seperti tayuban, campursari, dan pagelaran wayang kulit. Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu (4/4/2026) ini dihadiri oleh berbagai unsur, mulai dari kelompok petani tebu, perbankan, Dispora, instansi terkait, Muspika setempat, hingga seluruh karyawan pabrik.

Acara tersebut rutin digelar manajemen Pabrik Gula Candi sebagai penanda dimulainya musim giling tebu. Selain menjadi upaya pelestarian budaya leluhur, kegiatan ini juga menjadi wujud rasa syukur sekaligus doa bersama agar proses produksi berjalan lancar, aman, dan menghasilkan produksi yang optimal.

Direktur Pabrik Gula Candi Sidoarjo, Arief Nursusanto, menyampaikan bahwa perusahaan telah memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan ekonomi masyarakat, khususnya melalui sektor sumber daya manusia (SDM) yang mencapai sekitar 60 persen. Salah satu bentuk nyata kontribusi tersebut adalah dengan melibatkan sekitar 40 pelaku UMKM lokal yang membuka lapak dalam acara ini, menampilkan beragam produk mulai dari kuliner hingga kerajinan tangan.

Dalam keterangannya kepada awak media, Arief Nursusanto juga menyampaikan apresiasi atas kehadiran dan partisipasi media dalam memeriahkan acara. Ia berharap sinergi antara perusahaan, instansi terkait, Muspika, perbankan, serta media dapat terus terjalin dengan baik demi mendukung kemajuan bersama.

Untuk target produksi, Pabrik Gula Candi menargetkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2025, produksi gula tercatat mencapai 30.000 ton, sedangkan pada tahun 2026 ditargetkan meningkat menjadi 35.000 ton, dengan total tebu yang digiling mencapai 4,8 juta ton.

Pasokan tebu diperoleh dari berbagai daerah, di antaranya Kabupaten Sidoarjo, Gresik, Pasuruan, Mojokerto, Malang, Probolinggo, hingga Lumajang. Bahkan, hasil produksi gula Pabrik Gula Candi telah didistribusikan ke berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Bali dan Papua sebagai bagian dari kawasan Indonesia Timur.

Dalam upaya mencapai target tersebut, faktor cuaca menjadi salah satu penentu utama. Pihak manajemen berharap kondisi iklim, khususnya musim kemarau, dapat berlangsung sesuai dengan prediksi BMKG sehingga proses produksi tidak mengalami kendala berarti.

Selain itu, kemitraan dengan petani tebu terus diperkuat melalui penyediaan sarana produksi pertanian, seperti bibit unggul. Sementara itu, untuk bibit non-unggul masih disiapkan secara mandiri oleh para petani.

“Dengan adanya investasi sebesar Rp16 miliar, kami fokus pada peningkatan sarana dan prasarana pabrik serta perbaikan kebun yang kurang produktif, agar proses giling tebu dapat berjalan optimal dan mencapai target yang telah ditetapkan,” tegas Arief Nursusanto(sh)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *