
Kabupaten Kediri, – Sejumlah titik jalan di Kabupaten Kediri kian parah, selain tingginya curah hujan saat ini kerusakan diduga maraknya aktifitas Truk bermuatan yang Over Dimension Over Load (ODOL) yang bebas melintas tanpa adanya pengawasan dari dinas terkait.
Salah satunya diruas jalan dari arah Simpang Lima Gumul – Plosoklaten. Dari informasi yang didapat Tim Media salah satu kerusakan jalan berada di Desa Bangkok Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri. Guna menghindari hal – hal yang tidak diingikan warga secara gotong royong melakukan perawatan jalan secara swadaya dengan menambal jalan yang berlubang dengan material seadanya. Hal ini guna menghindari terjadinya kecelakaan, pasalnya saat hujan air yang masuk dijalan raya bisa menutupi jalan yang berlubang sehingga dapat membahayakan pengguna jalan.

Sementara itu, Ketua Aliansi Penambang Tradisional dan Armada Kediri Raya, Tubagus Fitrajaya, kembali melontarkan pernyataan keras terkait maraknya truk ODOL (Over Dimension Over Load) yang masih bebas melintas di wilayah Kabupaten Kediri meski telah disorot sejak 10 Februari lalu.
Berdasarkan pantauan terbaru pada 17 Februari 2026 di wilayah Gabru, Kecamatan Gurah, truk-truk bermuatan tinggi dengan terpal menjulang masih terlihat melintas di siang hari tanpa hambatan. Fakta ini semakin menguatkan dugaan bahwa praktik pelanggaran tersebut belum disentuh secara serius.
Tubagus menegaskan, pihaknya tidak akan tinggal diam jika pembiaran terus terjadi.

“Kami sudah menyampaikan secara terbuka. Kami sudah memberi waktu. Kalau dalam waktu dekat tidak ada langkah konkret dan penindakan tegas, maka kami pastikan akan turun ke jalan,” tegas Tubagus.
Menurutnya, aksi tersebut bukan bentuk provokasi, melainkan bentuk kontrol sosial yang sah dalam negara demokrasi.
“Kami ini pelaku usaha lokal. Kami taat aturan. Kami bayar pajak. Tapi kalau hukum tidak ditegakkan secara adil, kami punya hak menyuarakan kebenaran. Dan itu akan kami lakukan secara besar-besaran dan terbuka,” ujarnya dengan nada tajam.
Ia menyebut aksi yang akan digelar nanti dapat melibatkan penambang tradisional, sopir armada, serta elemen masyarakat yang peduli terhadap keselamatan jalan dan keadilan usaha.

“Ini bukan kepentingan pribadi. Ini kepentingan bersama. Jalan rusak, risiko kecelakaan meningkat, persaingan usaha tidak sehat. Kalau aparat diam, rakyat yang akan bergerak,” katanya.
Meski demikian, Tubagus tetap membuka ruang dialog.
“Kami masih berharap Bupati Kediri dan Kapolres Kediri segera menunjukkan langkah nyata. Operasi gabungan, razia rutin, penindakan terbuka. Kalau itu dilakukan, kami dukung penuh. Tapi kalau hanya diam, jangan salahkan kami jika ribuan massa turun menyuarakan tuntutan,” tandasnya.

Tubagus menekankan bahwa aksi tersebut akan dilakukan secara tertib dan sesuai prosedur hukum, namun dengan jumlah massa besar sebagai bentuk keseriusan sikap.
“Ini bukan ancaman. Ini komitmen. Hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Kalau tidak, kami akan pastikan suara penambang dan armada Kediri Raya terdengar sampai pusat,” pungkasnya.
Kini bola ada di tangan pemerintah daerah dan aparat penegak hukum. Bertindak tegas dan menjaga wibawa hukum, atau menghadapi gelombang aspirasi besar dari lapangan dalam waktu dekat. (GIGA)



