Pemkab Kediri kembali gelar Parade Cikar Tahun 2026

Kab. Kediri, jatim.expost.co.id — Rangkaian Peringatan HUT RI ke-81 Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri kembali menggelar Parade Cikar, Sabtu (22/8/2026). Gelaran Parade Cikar kali ini merupakan kegiatan rutin yang diadakan oleh Pemkab Kediri setiap tahun dalam memperingati dan sekaligus memeriahkan HUT RI. Untuk gelaran Parade Cikar Tahun 2026 ini sendiri sudah masuk pada tahun kelima di Kabupaten Kediri.
Pada Kegiatan ini diikuti oleh 43 peserta atau bajingan (orang yang menjalankan cikar) untuk ikut memeriahkan acara. Jumlah tersebut bertambah dibanding pelaksanaan tahun sebelumnya yang hanya diikuti 40 peserta.

Parade dimulai dari depan Taman Totok Kerot, Dusun Kunir, Desa Bulupasar, pukul 10.00 WIB, melewati kawasan Monumen Simpang Lima Gumul (SLG), hingga finis di depan Kantor Dinas Perhubungan Kabupaten Kediri.

Bupati Kediri melalui Sekretaris Daerah Kabupaten Kediri, M. Solikin, mewakili menyampaikan, parade ini bukan sekedar kegiatan untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan.

Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya khususnya di Kabupaten Kediri, sekaligus mengingatkan masyarakat terhadap keberadaan transportasi tradisional yang pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

“Ini sudah kelima kali. Niat dan tujuan kegiatan ini tidak sekedar melestarikan budaya, tetapi mengingatkan kembali Cikar menjadi salah satu bagian alat transportasi yang pernah ada, sehingga masyarakat tidak lupa keberadaannya,” Jelas Solikin saat menyampaikan sambutan.

Solikin juga menilai keberadaan sapi tidak hanya berkaitan dengan tradisi, tetapi memiliki potwnsi dan nilai ekonomi yang besar. Menurutnya, sapi merupakan salah satu simbol kemakmuran masyarakat karena memiliki potensi ekonomi yang masih sangat dibutuhkan.

“Kebutuhan daging dan susu masyarakat hari ini sangat tinggi. Kita belum bisa memenuhi seluruh kebutuhan tersebut,” jelasnya.
Pemkab Kediri terus mendorong masyarakat untuk melihat peternakan sebagai salah satu potensi ekonomi. Parade cikar dan kontes sapi dinilai menjadi salah satu sarana untuk mengenalkan potensi tersebut kepada masyarakat luas.

Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri, Tutik Purwaningsih, mengatakan dari 46 cikar yang mendaftar, hanya 43 peserta yang akhirnya dinyatakan memenuhi persyaratan untuk mengikuti parade.
Menurut Tutik, sebelum mengikuti kegiatan, sapi-sapi yang digunakan telah menjalani pemeriksaan kesehatan oleh petugas kesehatan hewan. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan tidak ada indikasi penyakit hewan menular, mengingat parade berlangsung di ruang publik dan melibatkan masyarakat.

“Dari pendaftaran terakhir ada 46, kemudian setelah pemeriksaan ada tiga yang tidak memenuhi syarat sehingga yang ikut 43. Semua sapi kami cek kesehatannya,” jelas Tutik.
Dengan jumlah 43 cikar, setidaknya terdapat sekitar 86 ekor sapi yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Peserta berasal dari 10 kecamatan di Kabupaten Kediri.
Menurut Tutik, selain peternak dan komunitas pelestari cikar, Pemkab Kediri juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk ikut merasakan langsung pengalaman menaiki transportasi tradisional tersebut.

“Sekitar 50 siswa dari SDN 1 Wonosari, Kecamatan Pagu turut dilibatkan dalam parade. Sebelum menaiki cikar, mereka mendapatkan edukasi mengenai pentingnya mengonsumsi produk peternakan, mulai dari telur, daging hingga susu,” ucapnya.

Ditambahkan Tutik, DKPP Kabupaten Kediri juga membagikan sekitar 2.000 butir telur rebus kepada masyarakat yang berada di sepanjang rute parade. Pembagian tersebut menjadi bagian dari upaya mengenalkan produk peternakan lokal kepada masyarakat.

“Temanya kali ini lebih melibatkan masyarakat umum secara langsung. Selain memperkenalkan cikar kembali, kami juga ingin menguatkan sektor peternakan di Kabupaten Kediri,” tutur Tutik.

Dalam parade tahun ini, peserta tidak hanya dinilai dari kondisi sapi. Ada tiga kategori penilaian, yakni performa sapi, kreativitas cikar, serta penggunaan aksesori dan muatan lokal, khususnya produk pertanian Kabupaten Kediri.

Tutik menjelaskan, sapi yang digunakan dalam parade mayoritas merupakan jenis Peranakan Ongole (PO) dan Brahman, termasuk beberapa hasil persilangan. Sapi-sapi tersebut telah dilatih sehingga mampu mengikuti perjalanan sekitar 5,5 kilometer.
“Ini bukan sapi ekstrem. Kalau terlalu ekstrem justru gerakannya terbatas. Yang digunakan ini ideal dan sudah sangat terlatih,” jelasnya.

Tutik berharap keberadaan Parade Cikar dapat terus menjadi bagian dari upaya menguri-uri budaya Kabupaten Kediri. Dengan semakin banyak masyarakat yang terlibat, tradisi tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi generasi penerus.
“Harapannya, budaya-budaya yang ada di Kabupaten Kediri terus dilestarikan dan diuri-uri, supaya generasi sekarang juga tahu kebudayaan yang lampau,” pungkasnya.

Salah satu peserta yang berhasil meraih juara pertama adalah Yudiono dari Desa Kunjang Kecamatan Ngancar. Ia mengaku sangat bahagia karena kembali berhasil menjadi juara dalam Parade Cikar Kabupaten Kediri.
Dalam acara Parade Cikar yang diadakan oleh Pemkab Kediri mendapat antusias yang cukup besar dari masyarakat. Pemkab Kediri berharap Parade Cikar dapat terus dilestarikan selain menjadi hiburan masyarakat, Parade Cikar sebagai upaya melestarikan dan menjaga warisan budaya daerah agar tidak dilupakan generasi muda..
Kabupaten Kediri Berbudaya menjadi Slogan dengan senantiasa melestarikan budaya yang dikemas sederhana akan tetapi memberi kesan tersendiri di masyarakat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *