
Aceh Singkil, jatim.expost.co.id — Ketua DPD SWI Aceh Singkil Yudi Sagala angkat bicara
Iklim wartawan (Pers ) Di Aceh Singkil Sedang tidak Baik-Baik Saja, pandangan ketua SWI , Pemerintah Aceh Singkil masih mengkotak – kotakan Jurnalis yang ada di Aceh Singkil. Para jurnalis Kabupaten Aceh Singkil, saat ini tidak sedang baik-baik saja, indikasi pengkotak-Kotakan para rekan media masih nyata terjadi dilakukan pemerintah setempat.
“Kami melihat praktek pengkotak-Kotakan alias tebang pilih media di daerah ini berlangsung terang-terangan. Beberapa media, dan radio masih tetap menjadi langganan peraih dana hibah, sementara media kecil tanpa mendapat perhatian” jelasnya
Hal ini menjadi sorotan dikalangan pegiat pers Aceh Singkil. Yudi Sagala, ketua DPD SWI (Sekretariat Bersama Wartawan Indonesia) Aceh Singkil, angkat bicara terkait perlakuan sepihak yang dipertontonkan Pemerintah Daerah.aceh Singkil.
“Kami dari SWI melihat kata keadilan atau keberpihakan pemerintah daerah Aceh Singkil, untuk memberdayakan segelintir elemen masyarakat yang bergerak didunia jurnalistik masih jauh dari harapan. Pemkab mempertontonkan dan masih Pengkotak-Kotakan, para jurnalis” Tambah Yudi, pada Rabu, 8 April 2026,
Seusai rapat insan pers dengan Diskominfo Para jurnalis juga merupakan bahgian dari masyarakat Aceh Singkil, yang membutuhkan kesejahteraan secara ekonomi, namun bila perlakuan negatif berupa perburuan dana hibah bagi kelompok tertentu saja niscaya kesejahteraan itu dipastikan semakin menjauh.” ucapnya kesal.

Mestinya, pemerintah memperlakukan para jurnalistik sebagai 4 pilar demokrasi, sebagai mitra kerja dan sesuai tupoksinya sebagai kontrol sosial secara berkeadilan, bukan malah yang itu – itu saja pemain utama setiap tahun berjalan. Harus dibudidayakan, budaya antri atau budaya tunggu. Yudi mencatat, beberapa media online, dan radio di Aceh Singkil, yang terkuak pada acara pertemuan antara pers dengan Diskominfo, yang menjadi langganan penerima bantuan hibah untuk jurnalistik.
“Jumlah uang rakyat yang mengalir ke beberapa media bervariasi antara Rp 20 hingga Rp 25 juta setahun, ” ucap Yudi.
Sementara, wartawan senior Aceh Singkil, Razaliardi Manik, dalam penyampaiannya mengaku miris dengan kondisi pers saat ini.
“Dari besaran APBK mencapai Rp 800 milyar, hanya 200 juta dana untuk lebih 50 rekan wartawan, bagaimana cerita sejahtera dengan dana segitu, ” katanya.
Ia juga meminta pihak Diskominfo untuk dapat memfasilitasi rekan media untuk duduk bersama saling bersilaturahmi dengan Bupati Aceh Singkil, Safriadi Oyon, dalam waktu yang tidak terlalu lama. Masa bupati lalu, tambahnya pernah dana untuk rekan wartawan dianggarkan hampir mendekati angka Rp. 1 milyar setahun, dan sekarang hanya Rp. 200 juta untuk lebih dari 50 media Aceh Singkil, tuturnya.( D, S)



