
Kab. Kediri, jatim.expost.co.id — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali memakan korban. Sejumlah siswa penerima manfaat Program Pemerintah diduga menjadi korban dan mengalami keracunan massal.
Sejumlah siswa di SMP Negeri 1 Kras Kecamatan Kras Kabupaten Kediri yang menjadi salah satu Penerima Manfaat program MBG kembali menjadi korban dan mengalami keracunan massal. Diduga keracunan massal disebabkan olehnl Salah satu SPPG di Desa Purwodadi, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri.

Keluhan mulai muncul setelah para siswa menyantap menu MBG pada Kamis (23/7/2026). Sejumlah siswa dan orang tua mengeluhkan gejala gangguan kesehatan berupa diare, mual, muntah, serta sakit perut.
Dugaan keracunan tersebut memicu kekhawatiran di lingkungan sekolah dan keluarga siswa. Apalagi, makanan yang dikonsumsi merupakan bagian dari program pemerintah yang secara khusus dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi pelajar.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, guna mencegah situasi berkembang lebih luas dan memastikan penanganan dilakukan secara tepat, pihak SMPN 1 Kras menggelar pertemuan pada Senin (27/7/2026). Pihak sekolah memanggil pengelola SPPG Purwodadi serta menghadirkan perwakilan Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri.

Pertemuan tersebut menjadi langkah penting untuk menelusuri dugaan penyebab munculnya keluhan kesehatan para siswa. Pemeriksaan dan penelusuran diperlukan untuk memastikan apakah gejala yang dialami para siswa berkaitan dengan makanan MBG yang dikonsumsi atau terdapat faktor lain.
Dugaan keracunan makanan dalam program MBG bukan persoalan sepele. Program yang menyasar pelajar dalam jumlah besar menuntut standar keamanan pangan yang ketat, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, kebersihan dapur, penyimpanan, distribusi, hingga makanan dikonsumsi oleh siswa.
Karena itu, setiap laporan siswa mengalami diare, mual, muntah, dan sakit perut setelah mengonsumsi makanan yang sama harus ditangani secara serius dan transparan. Pemeriksaan terhadap sampel makanan, bahan baku, proses produksi, serta kondisi sanitasi dapur SPPG menjadi bagian penting dalam mengungkap fakta sebenarnya.
Hingga berita ini ditulis, penyebab pasti munculnya keluhan kesehatan tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan dan penelusuran dari pihak berwenang. Belum dapat dipastikan apakah seluruh keluhan tersebut disebabkan oleh makanan MBG.

Namun, munculnya dugaan gangguan kesehatan setelah konsumsi makanan yang didistribusikan dalam program pemerintah menjadi alarm serius. Pemerintah daerah, sekolah, pengelola SPPG, dan seluruh pihak terkait dituntut memastikan program MBG tidak hanya bergizi, tetapi juga aman dikonsumsi.
Sebab, program makan bergizi bagi pelajar semestinya menjadi instrumen untuk menjaga kesehatan dan tumbuh kembang anak. Bukan justru menimbulkan kekhawatiran baru di kalangan siswa dan orang tua.
