Bupati Sidoarjo Dorong Revitalisasi Pasar Tradisional dan Sistem Retribusi Non-Tunai

 

 

 

SIDOARJO 9 Mei 2026 – Bupati Subandi didampingi Asisten Perekonomian dan Pembangunan Bahrul Amig serta Plt Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Happy Setyaningtyas Astrawati menggelar audiensi bersama koordinator dan pengelola pasar tradisional di Ruang Transit Pendopo Delta Wibawa, Selasa (7/5/2026).

Audiensi tersebut membahas pengelolaan retribusi pasar hingga banyaknya kios yang tidak lagi beroperasi di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Sidoarjo. Kondisi tersebut dinilai dipengaruhi menjamurnya pasar modern dan perubahan pola belanja masyarakat ke sistem daring atau online.

 

Berdasarkan data target dan realisasi retribusi selama lima tahun terakhir, target retribusi pasar pada tahun 2024 tercapai. Namun, pada tahun 2025 target tersebut belum dapat terpenuhi.

Menanggapi hal itu, Subandi mengajak seluruh pihak untuk bersinergi melakukan revitalisasi pasar tradisional agar tetap mampu bersaing di tengah maraknya pasar modern.

Lakukan pemetaan untuk meningkatkan retribusi. Kami juga akan turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi pasar tradisional saat ini,” ujar Subandi.

Ia juga mendorong penerapan sistem retribusi non-tunai yang nantinya dapat dikawal oleh Diskominfo Sidoarjo. Selain itu, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo juga akan menyiapkan dashboard pendataan pasar tradisional dan jumlah kios maupun lapak pedagang yang dapat diakses seluruh organisasi perangkat daerah (OPD).

Menurutnya, kepala pasar harus mampu berinovasi agar kondisi pasar semakin nyaman bagi pedagang maupun pembeli.

 

Kepala pasar harus bisa berinovasi agar kondisi pasar lebih baik sehingga pembeli dan penjual merasa nyaman. Bila perlu disediakan jaringan WiFi gratis agar transaksi jual beli bisa dilakukan secara online,” katanya.

Dalam audiensi tersebut, para pengelola pasar juga menyampaikan sejumlah persoalan yang dihadapi di lapangan. Mulai dari banyaknya kios kosong yang rusak hingga paving pasar yang mulai mengalami kerusakan.

Mereka menyebutkan anggaran sebesar Rp2,3 miliar telah dialokasikan untuk pengelolaan Pasar Taman, Sukodono, dan Wonoayu. Anggaran tersebut akan digunakan untuk pembangunan paving, los basah, serta perbaikan pagar pasar yang rusak.

Khusus di Pasar Sukodono, akan dilakukan peninggian paving di area depan pasar guna mengatasi banjir saat musim hujan.

Selain itu, pada 13–14 Mei mendatang, Asosiasi Pedagang Kaki Lima ( APKLI ) bersama Lembaga Swadaya Masyarakat ( LSM ) FPSR Front Pembela Suara Rakyat DPD Sidoarjo, akan menggelar Gebyar Gemilang Pasar Rakyat Wonoayu untuk menghidupkan kembali aktivitas masyarakat di pasar tradisional.

Sementara itu, Pasar Krian masih menghadapi persoalan tempat penampungan pasca kebakaran dan saluran air yang kerap tersumbat sehingga tidak mampu menampung air hujan.

Koordinator pasar juga menyampaikan kondisi Pasar Porong yang kini telah dilengkapi kanopi sehingga pedagang tidak lagi terganggu hujan. Meski demikian, masih terdapat keluhan terkait retribusi parkir, jalan rusak, serta saluran air yang tersumbat.

 

Pihak pengelola Pasar Porong juga mulai mengedukasi pedagang agar dapat melakukan aktivitas jual beli secara online,” ujar salah satu koordinator pasar.

Di Pasar Wadungasri, tingkat okupansi kios konveksi di lantai dua disebut hanya mencapai 10 persen akibat maraknya penjualan online dan keberadaan toko modern.

Sedangkan di Pasar Kedungrejo, pengelola melakukan upaya branding dengan membersihkan area pintu masuk pasar agar lebih menarik bagi pengunjung.

 

Menanggapi berbagai persoalan tersebut, Subandi menegaskan komitmennya untuk segera melakukan pemetaan dan kajian terkait perbaikan sarana dan prasarana pasar yang dinilai sudah tidak memadai. Ia juga memastikan akan meninjau langsung kondisi pasar di lapangan. Red,(SH)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *